Sistem kemanan perbankan yang lemah menjadi titik rawan pencurian dana nasabah. BRI akan mengganti semua kerugian yang dialami nasabahnya apabila hasil investigasi menunjukkan terbukti ada skimming.

Pembobolan dana kembali menimpa para nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Jawa Timur. Berdasarkan laporan kepolisian pada Kamis (14/3/2018) siang jumlah korban telah mencapai 87 nasabah dan berpotensi terus bertambah. Pihak kepolisian menduga pencurian dana nasabah tersebut dilakukan dengan metode skimming atau pencurian informasi kartu menggunakan perangkat elektronik kecil atau skimmer.

Kejadian pembobolan nasabah tersebut bukan pertama kalinya terjadi menimpa para nasabah perbankan di Indonesia. Sebelumnya, kejadian serupa pernah terjadi di Bali pada pertengahan tahun lalu yang pelakunya merupakan warga negara asing.

Melihat kondisi tersebut, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga pengawas mengaudit sistem teknologi keamanan perbankan. “Kasus serupa sering terjadi, menunjukkan sistem teknologi informasi perbankan di Indonesia masih lemah. Kelemahan ini perlu diperbaiki,” kata Tulus seperti dikutip Antara, Kamis (14/3/2018)

Dia menuturkan lemahnya teknologi perbankan berbahaya bagi perlindungan konsumen dan industri perbankan nasional. Menurutnya, konsumen dirugikan bila dana rekening hilang yang berimbas industri perbankan akan kehilangan kepercayaan nasabah. Karena itu, dia mengimbau kepada BRI untuk mengganti seluruh dana nasabah yang hilang akibat praktik skimming itu.

Kelemahan sistem keamanan berbasis teknologi pada perbankan menjadikan Indonesia merupakan salah satu negara terbesar dalam kejahatan perbankan dengan cara skimming. Berdasarkan data Kepolisan Republik Indonesia, sebanyak 1.549 kasus skimming terjadi di Indonesia pada 2012-2013. Jumlah tersebut mencapai sekitar sepertiga dari kasus dunia yang mencapai sekitar 5.500 kasus.

Regulasi mengenai ganti rugi pihak bank terhadap nasabah memang secara tertulis tidak diatur dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Namun, ganti kerugian tersebut dapat dilihat UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dalam Pasal 19 ayat (1) UU Perlindungan Konsumen menyebutkan pelaku usaha dalam hal ini perbankan bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerugian konsumen akibat mengkonsumsi jasa yang dihasilkan.

Aturan mengenai kewajiban perbankan harus bertanggung jawab atas dana nasabah juga tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 16/1/2014 tentang Perlindungan Konsumen. Dalam Pasal 10, aturan tersebut menyebutkan Penyelenggara wajib bertanggung jawab kepada Konsumen atas kerugian yang timbul akibat kesalahan pengurus dan pegawai Penyelenggara.”

Tidak hanya itu, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) juga mewajibkan perbankan mengganti kerugian yang dialami nasabah. Dalam Pasal 29 POJK Nomor 1/POJK.07/2013 menyebutkan “Pelaku Usaha Jasa Keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian Konsumen yang timbul akibat kesalahan dan/atau kelalaian, pengurus, pegawai Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan/atau pihak ketiga yang bekerja untuk kepentingan Pelaku Usaha Jasa Keuangan.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan BRI, Bambang Tribaroto mengatakan pihaknya tengah melakukan enhancement keamanan di teknologi e-channel BRI. Menurutnya, nasabah tidak perlu khawatir akan keamanan dalam menggunakan layanan Bank BRI.  Dia mengatakan pihaknya juga akan melakukan edukasi kepada nasabah untuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi.

“BRI akan mengganti semua kerugian yang dialami nasabahnya apabila hasil investigasi menunjukkan bahwa terbukti ada skimming,” kata Bambang dalam keterangan persnya.

Menilik kejadian dugaan skimming yang terjadi di Kediri, Bambang menjelaskan pihaknya telah menyelesaikan investigasi internal secara cepat dan seluruh dana nasabah yang hilang telah dikembalikan secara penuh. Pihaknya juga telah mengambil langkah preventif untuk mengantisipasi terjadi hal serupa dengan berbagai langkah yang utamanya mengamankan uang nasabah baik dari sisi teknologi maupun kebijakan.

Untuk itu, Bambang menghimbau agar nasabah mengganti PIN secara berkala untuk melindungi transaksinya. Pihaknya juga sudah menampilkan tayangan pada layar ATM berupa himbauan untuk menutupi tangan saat memasukkan PIN, nasabah juga diimbau mengaktifkan SMS notifikasi, sehingga dapat langsung mengetahui apabila terjadi kejanggalan transaksi pada rekening

“Diminta juga meng-install BRI Mobile yang memiliki fitur disable card yang memungkinkan nasabah menon-aktifkan rekening langsung dari handphone, sehingga semakin menambah keamanan rekening nasabah,” lanjutnya.

 

Untuk mengantisipasi kejahatan perbankan, pelaku industri sebenarnya telah membentu forum Anti Fraud dan Investigasi Perbankan. Forum tersebut lebih berfokus pada bagaimana fraud yang sempat dialami dan terjadi di sebuah bank tidak terulang kembali terhadap bank lainnya. Salah satu kegiatan forum ini adalah saling tukar menukar informasi antar bank terkait oknum internal dan oknum eksternal dalam rangka upaya pencegahan dini terhadap fraud.

Setelah diketahui, modus para anggota dalam forum tersebut bekerja sama menunda transaksi sementara waktu dalam rangka penyelamatan aset atau dana bank dan nasabah. Kerja sama tersebut dilakukan sehubungan semakin meningkatnya kejahatan perbankan yang kerap bertransaksi lintas bank dengan cepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here