Pertanyaan :

Bagaimana proses hukum apabila terjadi perusakan pagar yang tidak disengaja. Contohnya menebang pohon dan menjatuhi pagar ren sapi yang mengakibatkan pagar tersebut rusak dan delapan ekor sapi keluar dan hilang tidak ditemukan?

Intisari:

 

Perusakan yang dilakukan secara tidak sengaja berdasarkan pertanyaan Anda dapat digugat secara perdata.

Jika kerusakan terhadap ren sapi tersebut menyebabkan hilangnya 8 ekor sapi sehingga menimbulkan kerugian bagi pemiliknya, maka pelaku dapat digugat secara perdata melakukan perbuatan melawan hukum dan harus mengganti kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan tersebut.

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

Jawaban :

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Perbuatan Merusakkan Barang dan Menghilangkan Hewan Milik Orang Lain

Pelaku yang menyebabkan peristiwa rusaknya pagar sehingga delapan ekor sapi lepas keluar dan menghilang dapat diancam pidana dengan Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) tentang pengrusakan barang atau penghilangan hewan milik orang lain, dengan catatan, perbuatan itu dilakukan secara sengaja.

 

Pasal 406 KUHP:

  1. Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau, sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
  2. dijatuhkan pidana yang sama terhadap orang dengan sengaja dengan melawan hukum membunuh, merusakkan, membikin tak dapat digunakan atau menghilangkan hewan, yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.

 

Unsur-unsur dari Pasal 406 ayat (1) KUHP, yaitu :

  1. Barang siapa;
  2. Dengan sengaja dan melawan hukum;
  3. Melakukan perbuatan menghancurkan, merusakkan, membuat tidak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu;
  4. Barang tersebut seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain.

 

Sementara, unsur-unsur dari Pasal 406 ayat (2) KUHP, yaitu:

  1. Barang siapa;
  2. Dengan sengaja dan melawan hukum;
  3. Membunuh, merusakkan, membikin tak dapat digunakan atau menghilangkan hewan;
  4. Hewan tersebut seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain.

 

  1. Soesilo dalam buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 279) terkait Pasal 406 KUHP menjelaskan bahwa supaya dapat dihukum harus dibuktikan:
  2. Bahwa terdakwa telah membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang;
  3. Bahwa pembinasaan dan sebagainya itu harus dilakukan dengan sengaja dan dengan melawan hak;
  4. Bahwa barang itu harus sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain.

 

Kemudian dijelaskan juga lebih lanjut, yang dimaksud dengan:

  1. Membinasakan adalah menghancurkan atau merusak, misalnya membanting gelas, cangkir, tempat bunga, sehingga hancur.
  2. Merusakkan adalah kurang dari membinasakan, misalnya memukul gelas, piring, cangkir dan sebagainya, tidak sampai hancur, akan tetapi hanya pecah sedikit dan retak atau hanya putus pegangannya.
  3. Membuat sehingga tidak bisa dipakai lagi adalah tindakan itu harus sedemikian rupa, sehingga barang itu tidak dapat diperbaiki lagi. Melepaskan roda kendaraan dengan mengulir sekrupnya, belum berarti tidak bisa dipakai lagi, karena dengan cara memasang kembali roda itu masih bisa di pakai.
  4. Menghilangkan yaitu membuat sehingga barang itu tidak ada lagi, misalnya dibakar sampai habis, dibuang di laut sehingga hilang.
  5. Barang adalah barang terangkat, maupun barang yang tidak terangkat; binatang tidak termasuk di sini, karena diatur tersendiri pada ayat 2.

Lebih lanjut, R. Soesilo mengatakan bahwa yang dihukum menurut Pasal 406 KUHP tidak saja mengenai barang, tetapi juga mengenai binatang, misalnya A benci kepada B, pada malam hari A membacok urat kaki kuda B, sehingga kuda B tidak bisa dipakai lagi, atau kuda itu dibunuhnya.

Untuk dapat dipidana dengan Pasal 406 KUHP di atas, maka harus dipenuhi semua unsur-unsur pasal tersebut.

Berdasarkan keterangan Anda, kerusakan terhadap pagar ren sapi sehingga delapan sapi lepas terjadi secara tidak sengaja pada saat seseorang menebang pohon. Maka perbuatan tersebut tidak memenuhi semua unsur Pasal 406 KUHP. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai perbuatan kelalaian/kealpaan.

Dalam hal ini, menurut S.R. Sianturi dalam bukunya Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya (hal 675), apabila kehancuran dan kerusakan itu terjadi karena suatu kealpaan, maka penyelesaiannya adalah di bidang hukum perdata.

Jadi, seseorang yang menebang pohon yang mengakibatkan pohon terjatuh dan tidak sengaja menimpa pagar ren sapi hingga rusak dan delapan sapinya lepas keluar, tidak dapat dituntut secara pidana atas kerusakan tersebut. Tetapi, si pemilik pagar dan sapi sebagai pihak yang dirugikan dapat menggugat secara perdata atas kerusakan yang ditimbulkan orang si penebang pohon.

Gugatan Perdata

Si pemilik pagar dan sapi dapat menggugat atas dasar perbuatan melawan hukum (“PMH”), yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:

“Tiap perbuatan melanggar hukum , yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut.”

Lalu apa saja unsur-unsur PMH? Dalam artikel Merasa Dirugikan Tetangga yang Menyetel Musik Keras-keras dijelaskan antara lain bahwa Mariam Darus Badrulzaman dalam bukunya “KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan Dengan Penjelasan”, seperti dikutip Rosa Agustina dalam buku “Perbuatan Melawan Hukum” (hal. 36) menjabarkan unsur-unsur perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUHPer sebagai berikut:

  1. Harus ada perbuatan (positif maupun negatif);
  2. Perbuatan itu harus melawan hukum;
  3. Ada kerugian;
  4. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum itu dengan kerugian;
  5. Ada kesalahan.

Menurut Rosa Agustina, dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum, terbitan Pasca Sarjana FH Universitas Indonesia (2003), (hal. 117) yang dimaksud dengan “perbuatan melawan hukum”, antara lain:

  1. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku;
  2. Bertentangan dengan hak subjektif orang lain;
  3. Bertentangan dengan kesusilaan;
  4. Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian.

Dalam hal ini, si pemilik pagar dan sapi harus dapat membuktikan bahwa semua unsur di atas terpenuhi.

Contoh Kasus

Sebagai contoh kasus kelalaian yang mengakibatkan kerusakan barang dapat kita lihat dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Nomor 640/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Bar. Bangunan rumah tinggal Penggugat mengalami kerusakan akibat pembangunan gedung bertingkat empat lantai milik Tergugat. Penggugat meminta ganti kerugian terhadap Tergugat melalui gugatan PMH.

Hakim menyatakan secara hukum pekerjaan konstruksi bangunan gedung bertingkat empat lantai milik Tergugat, yang telah menyebabkan struktur bangunan rumah tinggal Penggugat menjadi rusak adalah PMH dan merugikan Penggugat. Akhirnya hakim menghukum Tergugat membayar ganti kerugian materil kepada Penggugat secara seketika dan sekaligus sebesar Rp. 1.007.108.500,- atas rusaknya rumah Penggugat.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat

 

Dasar Hukum:

  1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
  2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

 

Referensi:

S.R Sianturi, S.H. Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya. Alumni AHM-PTHM. Jakarta: 1983.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here