Sebagai orangtua yang telah menyadari adanya tanda-tanda pelecehan seksual pada Anak Anda, pasti Anda akan mengalami kesulitan untuk menerima keadaan. Namun, jangan sampai Anda kehilangan kendali dan membuat anak Anda semakin merasa bersalah. Pertama-tama, tenangkan diri Anda dan selidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan bertanya kepada anak Anda mengenai rangkaian peristiwa yang telah dialami olehnya.

Namun, sebelum Anda memberikan pertanyaan, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui menyangkut psikologi anak Anda.

Pahami ketakutan anak setelah mengalami pelecehan seksual

Anak yang pernah mengalami kekerasan seksual bentuk apapun akan memiliki berbagai rasa takut yang membuat mereka sulit untuk menceritakan pengalamannya, seperti:

  • Takut bahwa pelaku mungkin akan menyakiti dirinya ataupun keluarganya
  • Takut orang-orang tak akan percaya dan malah berbalik menyalahkan dirinya
  • Khawatir bahwa orangtua akan marah atau kecewa kepada mereka
  • Ketakutan bahwa dengan mengungkapkan kejadian, ia akan mengganggu keluarga, terutama jika pelaku merupakan kerabat dekat atau anggota keluarga sendiri
  • Ketakutan bahwa jika memberi tahu ia akan diambil dan dipisahkan dari keluarga

Kemampuan anak untuk mengungkapkan peristiwa pelecehan atau kekerasan, berdasarkan usia

Bayi (0-18 bulan)

Pada usia ini, anak belum dapat mengungkapkan kekerasan fisik atau seksual terhadap dirinya. Kasus hanya dapat dibuktikan jika ada saksi mata, pelaku mengaku dengan sendirinya, atau terdapat penyakit menular seksual, sperma, atau air mani ketika pemeriksaan.

Batita (18-36 bulan)

Kelompok pada usia ini merupakan kelompok yang paling umum untuk dianiaya. Karena komunikasi mereka yang masih terbatas, mereka tidak akan bisa melaporkan kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada dirinya. Mereka mungkin meniru tindakan seksual dengan tubuh mereka sendiri, dengan anak-anak lain, atau dengan boneka. Balita tidak bisa mengurutkan waktu dan tempat kejadian dengan baik. Hanya beberapa anak dari kelompok usia ini yang mengetahui perlakuan yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada bagian tubuh mereka.

Balita (3-5 tahun)

Usia ini juga merupakan usia yang umum untuk kasus kekerasan fisik dan seksual. Kemampuan mereka untuk memberikan kesaksian sangat terbatas. Mereka cenderung memiliki pikiran konkret dengan dunia egosentris sehingga selama wawancara, mereka tidak bisa mengonsep pikiran dan juga akan mudah terganggu dan cenderung berkata “tidak tahu”.

Usia Sekolah Dasar (6-9 tahun)

Pada usia ini, mereka telah mampu menyembunyikan fakta dari orangtua dengan cara yang lebih meyakinkan dan juga mampu menjaga rahasia terhadap kekerasan seksual yang dialami oleh dirinya. Hal ini disebabkan karena mereka telah berasosiasi dengan guru, teman, dan lainnya, sehingga mereka memiliki lebih banyak informasi bahwa apa yang telah mereka alami merupakan sesuatu yang buruk.

Kelompok usia ini telah mampu untuk menceritakan peristiwa dengan lengkap, seperti tempat dan waktu kejadian. Namun, rasa takut terhadap pelaku, bingung, malu, takut dimarahi, dan takut untuk masuk penjara merupakan faktor yang membuat mereka berbohong.

Masa pubertas (9-13 tahun)

Masa praremaja biasanya lebih nyaman dengan pewawancara yang berjenis kelamin sama. Bukan hanya merasa tidak nyaman dengan pelecehan seksual, namun mereka juga cenderung canggung dan sadar tentang apa yang telah dialami oleh tubuhnya. Hormon yang berkembang pada diri mereka akan membuat mereka frustrasi dan menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas. Kemungkinan yang terburuk adalah ketika mereka mulai menantang penerimaan dirinya di lingkungan sosial dengan melakukan hal-hal yang memberontak seperti mencuri, menyalahgunakan narkoba, dan mengarah ke seks bebas.

Remaja (13 tahun ke atas)

Mereka akan memiliki kesulitan dalam menerima kenyataan bahwa mereka membutuhkan bantuan, apakah dengan konseling, hukum, medis, dll. Kebebasan sangat dijunjung tinggi oleh mereka, mereka tidak ingin menggantungkan diri kepada orangtua secara emosional, sehingga wawancara akan lebih sulit dilakukan. Kemungkinan terburuk yang mereka akan lakukan akibat kekerasan seksual adalah dengan perilaku agresif, kegagalan dalam sekolah, pergaulan bebas, menggunakan narkoba, hingga bunuh diri.

Cara berbicara kepada anak untuk menggali kemungkinan pelecehan seksual

Jika Anda khawatir dengan kasus yang menimpa anak Anda, bicaralah dengannya. Namun, perlu diingat untuk menghindari percakapan yang bersifat mengintimidasi, sehingga anak akan lebih terbuka kepada Anda. Khusus anak kelompok batita dan balita, pertanyaan yang diajukan harus lebih spesifik dan hindari pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak”.

Pilih waktu dan tempat dengan hati-hati

Pilih ruangan yang nyaman dan hindari berbicara di depan seseorang yang akan mengganggu kenyamanan anak.

Jaga nada bicara santai

Jika Anda memulai percakapan dengan nada serius, hal ini dapat menakut-nakuti anak. Mereka akan cenderung menjawab dengan jawaban yang mereka pikir Anda inginkan, dan bukan jawaban yang sebenarnya. Jadi, cobalah membuat percakapan lebih santai. Nada yang tidak terlalu serius akan membantu Anda untuk mendapatkan informasi yang akurat dari anak.

Berbicara secara langsung dengan anak

Gunakan kosakata yang sesuai dengan anak Anda, namun cari kata yang memiliki banyak makna seperti, “Apa ada orang yang menyentuh kamu?”. Kata “menyentuh” dapat memiliki arti yang lain, namun kata ini akrab di telinga anak Anda, sehingga anak akan merespon dengan pernyataan atau komentar yang dapat membantu Anda menyelidiki kasus ini seperti, “Tidak ada kok, hanya ibu yang menyentuh aku saat mandi,” atau, “Maksud ayah, seperti sepupu aku yang kadang-kadang menyentuhku?”. Hal ini cocok diajukan untuk anak yang belum mengerti baik-buruk pelecehan seksual, sehingga menggunakan kata “menyakiti” malah tidak akan mengarahkan anak Anda untuk memberi informasi yang Anda diharapkan.

Dengarkan dan tindaklanjuti jawaban anak

Ketika anak Anda merasa nyaman berbicara dengan Anda, biarkan ia berbicara, kemudian berhenti sejenak. Setelah itu, Anda dapat menindaklanjuti poin-poin yang membuat Anda merasa khawatir.

Hindari menghakimi dan menyalahkan anak

Hindari menggunakan pertanyaan dan pernyataan yang dimulai dengan subjek “aku”, karena hal itu terkesan menyalahkan anak. Contohnya jika Anda seorang ayah, maka jangan berkata, “Ayah jadi khawatir ketika mendengar ceritamu”, tapi ucapkanlah seperti ini, “Kamu tadi memberi tahu sesuatu yang membuat ayah khawatir…”

Yakinkan anak bahwa mereka tidak bersalah

Pastikan anak Anda tahu bahwa ia tidak akan dihukum atau dimarahi. Biarkan anak Anda hanya mengetahui bahwa Anda mengajukan pertanyaan karena khawatir, bukan karena Anda mengetahui adanya kemungkinan pelecehan seksual.

Bersabar

Ingat bahwa percakapan seperti ini mungkin sangat menakutkan bagi anak, karena banyak pelaku yang mengancam korbannya mengenai apa yang terjadi jika sang korban memberi tahu kekerasan seksual yang telah dilakukan olehnya. Pelaku mungkin mengancam korban dengan iming-iming memasukkan korban ke panti asuhan, mengancam keselamatan korban, atau mengancam orang yang yang dicintai dengan kekerasan fisik.

Setelah anak mengakui pelecehan seksual, apa yang harus dilakukan?

Ketika anak telah terbuka kepada Anda mengenai kekerasan seksual yang dialaminya, maka ada beberapa hal penting yang harus Anda lakukan:

1. Tetap tenang

Anak akan melihat perilaku Anda sebagai isyarat bahwa mereka akan baik-baik saja. Pelecehan seksual dapat mengubah pandangan anak terhadap dunia. Namun, terlepas dari seberapa hancur hati Anda, Anda harus meyakinkan anak Anda bahwa ia akan baik-baik saja, dan katakan bahwa ia bukan “barang yang rusak”.

2. Percaya apa yang dikatakan anak

Ada harus mempercayai seluruh perkataan anak Anda. Kepercayaan yang Anda berikan akan membuat ia tahu bahwa Anda mencintainya dan akan membantunya kapanpun.

3. Kembalikan rasa aman pada anak

Memulihkan keamanan merupakan hal yang sangat penting. Kekerasan seksual pada anak dapat membuatnya kehilangan kontrol, sehingga orangtua harus memberikan perlindungan kepada anak. Anda juga dapat membantu anak merasa aman dengan menunjukkan kesediaan Anda melindungi privasinya.

4. Jangan biarkan anak menyalahkan diri sendiri

Buatlah anak percaya bahwa bukan dia yang menyebabkan terjadinya peristiwa itu. Katakan bahwa ia tidak bisa disalahkan karena ia tidak mengetahui bahwa peristiwa itu akan terjadi. Banyak juga orangtua yang menyalahkan anak karena anak menyembunyikan peristiwa tersebut atau tidak memberi tahu lebih cepat. Ingat, anak memiliki beban psikologis tersendiri seperti macam-macam ketakutan pada dirinya yang telah dijelaskan di atas.

5. Hati-hati mengekspresikan kemarahan

Kemarahan merupakan hal yang normal saat Anda mengetahui bahwa anak Anda telah mengalami kekerasan seksual. Namun, kemarahan Anda dapat menyebabkan anak menyalahkan dirinya karena membuat Anda marah. Jadi, carilah tempat yang jauh dari anak untuk mengekspresikan kemarahan Anda.

6. Minta bantuan ahli

Banyak orang yang tergoda untuk menangani masalah ini sendiri. Namun, hal itu dapat menjadi permasalahan baru yang nantinya dapat mengisolasi anak Anda dalam membutuhkan dukungan. Mintalah bantuan kepada ahli psikologi kekerasan seksual pada anak untuk memulai perjalanan menuju pemulihan.

sumber : https://hellosehat.com/jika-menemukan-tanda-pelecehan-seksual-anak/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here