Pertanyaan:

Saya seorang ibu 1 orang anak, saya memutuskan meninggalkan/pisah (belum cerai) dari suami saya dan kembali ke rumah orang tua saya, karena suami saya telah menyakiti hati saya dengan berbagai perbuatan selingkuhnya. Awalnya saya membawa serta anak saya, tapi kemudian suami saya berhasil membujuk anak saya secara diam-diam untuk lari dengannya ke kampung halamannya dan dia tidak mengizinkan saya mengambil anak saya. Kini suami saya telah menikah lagi tanpa seizin saya.

Pertanyaan saya, bagaimana saya mengajukan gugatan terhadapnya secara hukum terkait hak asuh anak saya, agar saya bisa mengambil anak darinya tanpa dihalang-halangi.
Bagaimana kekuatan posisi saya di hadapan hukum?
Jawaban:
Pd umumnya permintaan hak asuh anak biasanya di ajukan oleh suami atau isteri bersamaan dgn permohonan talak & gugatan perceraian oleh pihak isteri melalui pengadilan agama (utk yg beragama islam) atau pengadilan negeri (utk agama selain islam). Seharusnya penguasaan secara hukum terhadap anak oleh salah 1 pihak tidak menghalangi ataupun memutus hubungan dgn pihak yg lainnya (ayah atau ibu)
Mengenai hak asuh anak akibat perceraian telah d atur dalam pasal 41 uu no 1 thn 1974 tentang perkawinan..pasal 105 Kompilasi Hukum Islam & pasal 156 Kompilasi Hukum Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here