Pertanyaan:
Jadi awalnya ibu sy janda cerai dgn bpk saya dengan dua anak.. Kemudian menikah lagi dgn Purn Polri sekitar th 2008 dgn enam anak bawaan Sewaktu ibu sy bersama bpk sambung ini mereka memutuskan untuk tdk mempunyai anak.
Jd bpk sambung sy ini meninggal th 2013, harta yg dikumpulkan bersama ibu sy adalah tanah pembelian sekitar th 2009( karena ini yg digugat)
Thn 2017 ini ibu menjual tanah dg hrg 125 juta. Dgn dp 75 juta di awal. Krn mmg sblumnya ibu tdk tau urusanya sprti skr.
Singkatnya slh satu anak dr alm Bpk Sambung menuntut hak pembelian tanah tsb. Menggugat untuk pembagian tanah tsb. Sprtinya posisi ibu sy sulit. Mohon saran apa untuk pembelaan ibu sy. Gambaran untuk pembagian seperti apa? tanah atas nama ibu sy.
Jawaban
Terkait dengan Pertanyaan sodara maka Perlu kami Jelaskan terlebih dahulu beberapa hal:
Anak Tiri Bukan Termasuk Ahli Waris
Anak tiri adalah anak salah seorang suami atau isteri sebagai hasil perkawinannya dengan isteri atau suaminya yang terdahulu. Misalnya, anak tiri seorang ayah, ialah anak isterinya sebagai hasil perkawinan isterinya itu sengan suaminya terdahulu. Anak tiri seorang ibu, ialah anak suaminya sebagai hasil hasil perkawinan suaminya itu dengan isterinya terdahulu. (Muslich Maruzi, Pokok-Pokok Ilmu Waris, hal. 84).
Anak tiri bukanlah ahli waris. Maka ia tidak dapat saling mewarisi antara dirinya dengan orang tua tirinya. Ini disebabkan antara si mayit dengan anak tiri tidak terdapat sebab mewarisi (asbabul miirats).
Sebab mewarisi terbatas pada 3 (tiga) sebab saja, yaitu :
Pertama, sebab kekerabatan (qarabah), atau disebut juga sebab nasab (garis keturunan), yaitu antara mayit dan ahli waris mempunyai hubungan kekerabatan yang hakiki, baik ke atas (disebut ushul), misalnya si mayit dengan ibu atau ayahnya; maupun ke bawah (disebut furu’) misalnya antara si mayit dengan anak, cucu, dst.
Kedua, sebab perkawinan (mushaharah), yaitu antara mayit dengan ahli waris ada hubungan perkawinan. Maksudnya adalah perkawinan yang sah menurut Islam, bukan perkawinan yang tidak sah, dan perkawinan yang masih utuh (tidak bercerai), atau dianggap utuh, yaitu masih dalam masa iddah untuk talak raj’i (talak satu atau dua) bukan talak ba`in (talak tiga).
Ketiga, sebab memerdekakan budak (wala`), yaitu antara mayit dan ahli warisnya ada hubungan karena memerdekakan budak. Apabila seorang memerdekakan budaknya, maka antara orang itu dan bekas budaknya akan saling mewarisi. Jika orang itu meninggal dan tidak ada ahli waris dari pihak kerabat, maka bekas budaknya berhak mendapat warisannya. Sebab mewarisi yang demikian ini disebut juga sebab kerabat secara hukum (qarabah hukmiyah). (Muslich Maruzi, Pokok-Pokok Ilmu Waris, hal. 10; Imam Ar-Rahbi, Fiqih Waris (terj), hal.31; Syifa’uddin Achmadi, Pintar Ilmu Faraidl, hal. 18).
Dengan demikian, jelaslah bahwa anak tiri bukan termasuk ahli waris, karena tidak ada sebab mewarisi (asbabul miirats) antara si mayit dengan anak tiri.
Namun demikian, kepada anak tiri mubah hukumnya untuk diberi wasiat oleh orang tua tirinya. Dengan syarat, harta yang diberikan sebagai wasiat itu tidak melebihi 1/3 (sepertiga) dari harta orang tua tirinya yang meninggal. Jika wasiatnya melebihi 1/3 (sepertiga), maka pelaksanaanya bergantung pada persetujuan para ahli waris.
[8/6 11.43] Pak Agus: Jika ada Wasiat yang disampaikan oleh Suaminya sebelum meninggal bang. Apabila tidak ada maka Anak Tiri tidak berhak atas Tanah Tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here